Blogger Alay? No Way!

Mei 10th, 2012, posted in Indonesiaku, catatan hati blogger

Setelah lebay kini alay. Yang pede mengatai orang lain alay atau dengan bangga menyebut dirinya sendiri sebagai alay pun mungkin nggak tahu apaan itu alay?

Sebutan alay adalah fenomena di kalangan remaja yang nampaknya semakin meluas. Istilah alay menurut beberapa orang adalah singkatan untuk anak layangan yang dimaksudkan sebagai anak yang sifatnya kampungan/ norak (karena layangan dianggap sebagai mainan orang pinggiran/ kampung). Alay didefinisikan sebagai gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsisan. Pendapat yang lain-penyimpangan perilaku menyatakan alay sebagai perilaku remaja Indonesia yang membuat dirinya merasa lebih keren, cantik, hebat, di antara yang lain. Ah, masak iya.

Jadi kalau disimpulkan Alay mempunyai ciri :

1. Membutuhkan pengakuan bahwa dirinya keren, cantik, dan hebat

2. Adanya gaya berpakaian dan gaya menulis yang berbeda sebagai upaya untuk memperoleh pengakuan di atas

Sifat alay yang membutuhkan pengakuan bahwa dirinya cantik, keren dan hebat melalui penampilan fisik semata tidak dibenarkan dalam tuntutan Islam. Dalam upayanya untuk memperoleh pengakuan, seorang alay selalu mengikuti tren gaya terbaru, baik dalam berpakaian, berkata-kata, atau dalam hal kegemaran, misalnya musik. Seringkali tren tersebut diikuti tanpa banyak pikir. Hal ini adalah perwujudan sifat imaah atau ikut-ikutan yang lebih banyak membawa dampak buruh ketimbang manfaatnya.

Sifat imaah ini dilarang karena tiap-tiap orang harus mempertanggungjawabkan tindakan sendiri-sendiri sehingga kita harus mempunyai dasar yang kuat dalam melakukan atau mengikuti suatu perbuatan. Kebutuhan alay untuk pengakuan diri oleh kelompoknya juga menunjukkan ketergantungan yang besar pada kelompok tersebut. Sementara mungkin kelompoknya itu membuat perbuatannya justru sia-sia, tidak bermanfaat, membuang waktu, dan semakin menjauhkannya dari nilai kebenaran.

Mana Identitasmu?

Krisis kepribadian yang melanda generasi muda Indonesia harusnya menjadi peer untuk kita semua. Karena identitas pribadi seseorang akan mencerminkan keyakinan kita pada nilai kebenaran. Apakah keberagaman pribadi itu dilarang bahkan oleh agama sekali pun? Tentu tidak. Setiap kita boleh menjadi pribadi yang unik dan khas tetapi tetap dalam kerangka aturan yang ada dalam Quran dan hadist dan kepribadian ini seharusnya lebih dari sekedar penampilan fisik yang baik semata, tetapi juga mencakup akhlak.

Masih pengen jadi alay? Cemungudddhh eaaah !!! (loh >__<”)

thanks to :

Mbak Sinta Yudisia - OASE LMI

Mereka Bilang Saya Kafir

Mei 9th, 2012, posted in Surabaya, religi

“Ya, itulah yang mereka bilang ketika cara sholat dan berpakaian saya tak sempurna, lebih tepatnya adalah karena apa yang saya lakukan tak sama dengan mereka,” aku salah saorang kawan.

Syarat utama bagi orang yang baru masuk Islam ialah mengucapkan dua kalimat syahadat. Barangsiapa yang mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisannya maka dia menjadi orang Islam dan berlaku hukum-hukum  yang menyertainya. Walaupun hatinya mengingkari. Karena kita diperintahkan untuk memberlakukan secara lahirnya. Adapun batinnya kita serahkan kepada Allah.

Pelajaran tersebut dapat kita ambil dari kisah sahabat Rosulullah, Usamah, yang telah membunuh orang yang  mengucapkan Laa Ilaaha Illallah. Nabi menyalahkan Usamah dengan sabdanya.

“Engkau bunuh dia setelah dia mengucapkan Laa Ilaaha ilallah.”

Usamah lalu berkata. “Dia mengucapkan laa ilaaha illallah karena takut mati.”

Kemudian Rosulullah bersabda, “Apakah kamu mengetahui isi hatinya?”

Inilah ayat yang biasa digunakan kelompok takfir :

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al Maidah 44)

Sehingga dalam pandangan mereka, muslim mana pun sudah dianggap kafir lantaran tidak menjalankan hukum Allah dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya penguasa tapi semua orang yang tidak menjalankan hukum Islam.

Ibnul Qayyim menerangkan tentang kandungan ayat itu sebagai berikut. Kufur itu ada dua macam, kufur akbar (besar) dan kufur ashghar (kecil). Kufur akbar adalah kufur yang mewajibkan pelakunya masuk neraka dengan kekal. Sedangkan kufur ashghar akan menjadikan pelakuknya diazab di neraka tapi tidak abadi selamanya.

Ternyata mudahnya menuduh seseorang kafir itu sebetulnya telah lama ada. Seiring dengan munculnya khawarij, kelompok sesat pertama dalam Islam. Menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani, mereka telah berani mengkafirkan khalifah Ustman bin Affan dan orang-orang yang bersamanya, memerangi Ali bin Abi Thalib dalam perang jamal dan shiffin, dalam perisitiwa tahkim (terdapat Ali bin Abi Thalib di dalamnya) dan akhirnya mengkafirkan siapa saja yang tidak sepaham dengan mereka.

Takfir (mudah menuduh orang kafir) bisa jadi dipicu berbagai fenomena kemaksiatan yang sudah sedemikian parah di masyarakat. Dengan leluasa mereka menyebarkan berbagai adegan seronok dengan memanfaatkan media informasi yang mudah diakses khalayak ramai dari berbagai genre usia. Seks bebas, pelacuran, pemerkosaan, pencurian, penyebaran minuman keras, narkoba, kolusi di antara penguasa serta pelecehan terhadap hukum dan agama akhirnya membuat pendukungan takfir bergejolak.

Mereka memandang bahwa orang yag ada di luar kelompoknya atau yang tidak berbaiat kepada imam mereka dianggap sebagai kafir dan keluar dari Islam. Maka setiap kali berbeda pendapat dengan orang lain mereka dengan mudah menyerang lawan bicaranya dengan julukan kafir. Bahkan kadang dosa-dosa yang dilakukan oleh umat Islam ini sudah cukup dijadikan dasar untuk memposisikan seseorang dalam kekafiran. Begitupun dengan para pemimpin dan ulamanya yang dianggap mendiamkan kemungkaran. Tapi jangan salah lho, hanya sekedar mendiamkan kemungkaran pun membuat seseorang atau sebuah pemerintahan sudah menjadi kafir.

Kafir-mengkafirkan sebabnya apa?

Pertama, tingkat toleransi sebagian ulama yang terlalu longgar terhadap segala kebijakan dan peristiwa yang terjadi di masyarakat.

Kedua, kurangnya kearifan dalam menyikapi suatu masalah

Biasanya yang melakukan hal ini adalah generasi muda yang punya semangat membara dalam beramar ma’ruf nahi mungkar. Kemudian mereka prihatin atas apa yang disaksikan termasuk kerusakan moral dan akhlak. Problem itu sedemikian menyiksa batin sehingga keluarlah mereka dari kearifan dan masuk wilayah out of control

Ketiga, energi yang tinggi namun tak diimbangi dengan kemampuan syariah yang mendasar. Pendalaman terhadap hukum Islam yang sepotong-sepotong dan tidak komprehensif membuat mereka cenderung mengambil ayat-ayat yang mutasyabihat.

Jangan Sebut Aku Kafir

Sesungguhnya perkataan tafsiq (menuduh fasiq), tabdi (menuduh bid’ah) dan takfir (menuduh kafir) adalah kalimat kotor yang tidak akan hilang begitu saja. Bila kata-kata itu dilontarkan kepada manusia, maka akan mempunyai dampak seperti yang berbunyi dalam hadist berikut :

“Bila seseorang berkata kepada saudaranya, hai si kafir! Maka sungguh akan kembali ucapan itu kepada salah satu dari keduanya” (HR Bukhari)

Berdasarkan penjelasan Dr Yusuf Qardhawi, akan ada konsekuensi berat atas tuduhan kafir yang dilontarkan kepada satu pihak. Hmm…padahal setiap orang yang berikrar mengucapkan syahadat telah dianggap muslim dimana nyawa dan hartanya dilindungi.

Contoh nih, kalo seseorang telah menuduh Bapak A kafir. Bagi istrinya, ia dilarang berdiam dengan suaminya dan mereka harus dipisahkan (bercerai). Bagi anak-anaknya, dilarang berdiam di bawah kekuasaanya. Perwalian atas perempuan (jika menikah) sudah tidak sah dan harus diwalikan hakim. Bapak A akan kehilangan haknya dari kewajiban masyarakat atau orang lain yang harus diterimanya, misalnya disholatkan ketika meninggal, tidak perlu diurusi, dimandikan, tidak dapat diwarisi dan mewarisi. Dan yang pasti akan mendapatkan laknat dan jauh dari rahmat Allah.

Dalam paham aqidah ahlus sunah wal jamaah, dosa-dosa yang dilakukan seseorang meski berulang tak membatalkan syahadat dan tidak membuat statusnya berubah menjadi kafir. Kecuali bila ia mengingkari adanya kewajiban mutlak seperti zakat, sholat, dan lainnya. Dan bila seorang berbuat dosa maka akan dicatat amal buruknya itu. Dan bila dia bertobat maka tergantung Allah, apakah akan diterima tobatnya atau tidak.

Kafir yang Bukan Kafir

Ialah seseorang yang tidak mengerti bahwa itu adalah suatu bentuk tindakan kekafiran, maka ia tidak berhak divonis kafir. Misalnya tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya.

“Barangsiapa menentang rosul setelah jelas baginya kebenaran, dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam jahanam dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa 115)

Sebenarnya mudahnya mengkafirkan bisa kembali kepada perkara-perkara berikut : dangkalnya ilmu dan kurangnya pemahaman tentang agama. Semata mengandalkan akal bahkan mengikuti hawa nafsu dalam menafsirkan Al Quran dan sunnah dan kemudian membuahkan kesimpulan yang berbahaya, jeleknya pemahamam yang dibangun atas jeleknya niat, kecemburuan terhadap agama yang berlebihan atau semangat yang tidak pada tempatnya.

Hal inilah yang kemudian dijadikan sebagai media untuk memberontak terhadap pemerintah kaum muslimin dan dijadikan sebagai landasan bolehnya mengadakan peledakan di negeri-negeri kaum muslim. Wallahua’lam bish showab.

Semoga bermanfaat.[]

thanks to :

Ustad Ali Ridho

Jodohku, Dimanakah Dirimu?

Mei 8th, 2012, posted in Surabaya, catatan hati blogger, religi, sekolah pra nikah

Jawabnya, ada di sini :)

Nah, setelah saya posting tentang Sabar dalam Proses Pernikahan, kali ini saya coba lanjutkan dengan menuliskan solusi yang diberikan untuk menjawab poin no 8. Masi ingat? Yup, ketika jodoh tak kunjung datang.

Apa saja yang harus dilakukan dalam proses penantian itu?

Pertama, mencoba melakukan update diri dalam segala hal

Jika saya jadi manajer HRD salah satu perusahaan, tentu saya akan memilih karyawan terbaik yang bukan sekedar punya talenta tapi MULTITALENTA. Pun begitu dengan kita. Selama menungu, jadilah seorang yang multitalenta agar ketika jodoh kita sudah datang, ilmu yang kita miliki cukup. Hafalan Al Quran, hadist, dan meningkatkan kapasitas keilmuan. Kelak ketika menikah bisa menjadi sumber jawaban dari masalah dalam keluarganya. Dan itu, LANGKA. Nggak semua orang punya kesempatan seperti itu. Menjadi seorang yang oke. Mungkin orang-orang melihat  tak sempurna secara fisik, tapi ia sempurna secara ruhiyah maknawiyah.

Kedua, berikhtiar dengan benar.

Jalan yang baik ada, jalan yang buruk sangat banyak. Sebagaimana disebutkan dalam hadist qudsi, “Allah itu sebagaimana prasangka hamba-Nya”. Dan yang dimaksud dengan ikhtiar yang benar di sini adalah berhusnudzon kepada Allah atas segala ketetapan-Nya serta menjemput jodoh dengan jalan yang baik.

Ketiga, sabar

Ini klise, tapi harus kita yakini kebenarannya. Kita harus meyakinkan diri kita kalau kita sabar Allah akan memberikan yang terbaik dalam hal segalanya. Yakinlah bawa dengan kesabaran tanpa batas, Allah akan memberikan jodoh yang terbaik. Entah itu dari aspek fisik, akhlak, kompetensi, maaliyah, ruhiyah, dan yang lain. Dan kesabaran akan menjadi proses tawakkal kita.

Andaikan kita semua tahu keuntungan dalam bersabar, mau tahu?

1. Berdampingan dengan Allah, karena Allah sangat menyukai orang-orang yang sabar

2. Kita akan memperoleh berita yang menyenangkan

3. Bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak berdosa

Kok bisa? Ya, karena salah satu bagian sabar adalah sabar menerima cobaan hidup. Bukankah cobaan yang sedang melanda kita sat ini (tentang jodoh yang tak kunjung datang) jauh lebih ringan daripada cobaan yang diberikan Allah kepada generasi terdahulu?

4. Insyaallah akan diberi pahala yang berlipat

Kalau saja, orang tahu dan dibukakan segala nikmat tentang pahala, niscaya tak akan ada hiruk pikuk (*waktu itu di kenpark lagi rame turis domestik soalnya) seperti ini. Orang akan banyak meninggalkan kesenangan duniawi kalau tahu betapa berharganya pahala yang tidak bisa diandaikan dengan jumlah mobil, rumah, dan segala kemewahan yang lainnya.

5. Terbebaskan dari siksa neraka

Dan tentu, itu adalah harapan kita semuanya. Kita coba tengok kisah Abdurrahman bin Auf. Sahabat Rosulullah yang sangat luar biasa dalam bersedekah. Kala itu Abdurrahman bin Auf datang ke kota Mekkah dengan membawa 700 ekor unta beserta perbekalannya, LENGKAP. Suatu hari beliau bertemu dengan Aisyah. Aisyah mengatakan kepada Abdurrahman bin Auf, bahwa ketika nanti di yaumul hisab ia akan berjalan dengan merangkak. Mengapa? Karena dengan banyak harta pasti akan dapat banyak pertanyaan. Dan setelah mendengar hal tersebut Abdurrahman bin Auf langsung menyedekahkan semua perbekalan yang dibawanya. Subhanallah…Dan ini adalah bentuk kesabarannya. Lalu kenapa kita tidak bisa? Bisa, pasti bisa!!!

6. Menjadi hamba yang dicintai Allah SWT

Tentu, tak ada cinta yang lebih besar, dari kecintaan Rabb kepada hamba-Nya.

Semoga bermanfaat.[]

thanks to :

1. Allah SWT

2. Ustad Agung Wicaksono

3. Tim SPN Surabaya

Sabar dalam Proses Pernikahan

Mei 8th, 2012, posted in Surabaya, catatan hati blogger, religi, sekolah pra nikah

“Boleh saya tanya kepada kalian, kira-kira hal tidak enak apa yang terbayang dalam sebuah pernikahan?” *perlu jadi catatan yang ditanyai ini pada belum nikah.

Ada yang menjawab, “Kalau setelah menikah ternyata nggak sreg.” Ada juga,“Kalo nggak punya visi dan misi yang sama.”

“Sebetulnya jawabannya cukup mudah, nggak enaknya cuma satu, kok nggak dari dulu-dulu saya nikah.”

Grrrrhhh!!!

Banyak kondisi riil di lapangan seperti KDRT, perselingkuhan, mulai terbukanya aib masa lalu yang akhirnya menjadi sumber pertimbangan bulatnya keputusan untuk menikah. Dari semua kasus itu menjadi pe-er buat kita semuanya untuk mencoba mengaplikasikan teori yang sudah didapatkan ke dalam kondisi riil tadi. Agar tidak ada orang yang menganggap bahwa pernikahan itu adanya yang indah-indah saja.

Usia pernikahan pun akan menjadi penentu. Biasanya dapat dilihat dari 3 tahun pertama bagaimana sepasang suami istri membangun pondasi rumah tangganya. Oleh karenanya banyak artis dan masyarakat di sekitar kita yang akhirnya memilih cerai karena gagal dalam membangun pondasi pernikahannya. Pernikahan hanya dijadikan sebagai sarana uji coba (trial and error). Kebanyakan disebabkan karena otoritas yang berlebihan, kelas yang lebih tinggi, dan kecantikan atau ketampanan fisik yang menjadi ukuran ketika memilih pasangan.

Mau Nikah atau Siap Nikah?

Ada yang tahu perbedaan antara keduanya? Ya, mereka yang mau menikah belum tentu siap, tetapi yang siap sudah pasti mau. Ada yang sudah siap tapi nggak mau nikah? (*perlu dikasih tanda tanya besar, nih). Menikah adalah kebutuhan dasar sebagai manusia. Tetapi hal utama yang harus didahulukan sebelum banyaknya kriteria yang akan diminta kepada calon pasangan tak boleh lebih dari bagaimana komitmen dan keimanan yang harus tertancap kuat dalam diri untuk menghadapi setiap jengkal proses yang akan dilalui ke depan. Seperti seorang dokter yang dianggap melakukan malpraktek karena sebuah kejadian yang tidak diinginkan (adverse event), pernikahanpun bisa jadi demikian, riil dan harus dihadapi.

Berdasarkan pengamatan pembicara dari realita, ada 8 faktor atau alasan mengapa akhirnya seseorang tak juga memutuskan SIAP menikah :

Pertama, masih punya tanggung jawab keluarga. Kebanyakan dan biasanya alasan ini dari pihak laki-laki, apalagi ketika ia menjadi tulang punggung keluarga (*bukan bermaksud menghakimi. Mau protes? Silakan.)

Kedua, karena saya belum mapan (cukup). Persoalannya kemudian, angka kecukupan itu berapa? Walaupun kita harus realistis bahwa pernikahan itu memang butuh biaya.

Banyak yang kemudian bertanya, “Ustad biasanya pernikahan itu butuh uang berapa?”

“Kamu punya uang berapa?” Tanya ustad balik. “500ribu habis, 100 juta habis, 1 milyar pun habis. Bandingkan antara pesta pernikahan artis yang digelar hingga menghabiskan dana bermilyar, dengan mereka yang menikah di sudut-sudut mushola dan hanya menghabiskan dana tak lebih dari 500ribu.”

Jadi tidak ada ukuran yang jelas untuk sebuah kemapanan. Makanya harusnya tidak boleh dijadikan sebagai alasan. Ingatlah janji Allah berikut :

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)

Dan sungguh, menunda pernikahan berarti kita terhalang untuk membentuk sebuah keluarga agar semakin banyak menebarkan kebaikan di masyarakat.

Ketiga, merasa punya kekurangan dan nggak pede, terjebak pada hal-hal fisik, dan selalu ingin tampil secara sempurna

Ada cerita seorang lelaki, buta, dan Allah menakdirkan ia mendapatkan jodoh dengan kondisi yang sama. Dan mereka pede-pede aja tuh. Subhanallah anaknya cantiknya luar biasa dan normal. Anaknya inilah yang kemudian menuntun kedua orang tuanya berjalan-jalan keliling kota.

So, ingin tampil secara sempurna itu sah saja, tapi kalau kitanya memang biasa saja ya terima. Gemuk dan kurus itu perlu disyukuri. Dan untuk mengurangi ketimpangan karena ketidakpedean seharusnya keduanya berkomitmen untuk saling mengisi.

Keempat, kurang sreg dengan pasangan yang ditawarkan saking perfesksionisnya kita

Tak jarang tiap individu memiliki kriteria setebal anggaran APBD. Dan semuanya tak luput dari kriteria fisik dan duniawi. Introspeksilah terhadap diri masing-masing. Yakini bahwa yang mendapatkan pasangan yang cantik dan ganteng itu belum tentu enak. Suami ganteng, jalan di mall, eh istrinya sewot kalo suaminya dilihat orang. Dapat istri cantik, digodain orang, bingung lagi.

Kelima, trauma dengan kegagalan masa lalu

Biasanya jika sudah membawa dampak pada aspek ruhiyah hal ini perlu penanganan khusus melalui konselor. Beberapa kali gagal dalam sebuah proses menuju pernikahan bisa jadi trauma tersendiri. Dapat cerita dari seorang kawan yang akan menikah. Dari pihak laki-laki dan perempuan sudah setuju, undangan sudah disebar, semuanya sudah siap. Tapi H-1 tiba-tiba pihak perempuan membatalkan. Alasannya sih saya kurang tahu. Tapi lihatlah betapa besar dampak yang akan ditimbulkan pada pihak laki-laki? Oh, ini masih mending.

Ada yang sudah menikah, ijab qabul, manten disalami oleh tamu yang berdatangan. Tapi hari-hari setelahnya menjadi hambar karena selama 3 hari berturut-turut sang istri tak disentuh sama sekali. Dengan alasan pihak laki-laki, baik manten maupun orang tuanya kurang sreg. Dan itu tidak dibicarakan sebelum menikah, sebelum akad, sebelum ijab qabul.

Keenam, kurang iman - sudah jelas ya

Ketujuh, masih konsentrasi dengan amanah lain

Kedelapan, jodoh yang tak kunjung datang

Inilah yang paling sulit untuk kita jawab. Karena semuanya ada hak prerogativ Allah semata. Yang bisa kita lakukan adalah menanti dan sabar. Kisah berikut mungkin bisa diambil ibrahnya oleh pembaca semua.

“Oh ibu, usiaku sudah lanjut, namun belum datang seorang pemuda pun meminangku. Apakah aku akan menjadi perawan seumur hidup?” seorang gadis, kaya raya, dari Bani Makzum bernama Rith’ah Al Hamka *hemm, yang kaya aja bingung cari jodoh, apalagi kita yang biasa aja.

Kemudian si ibu datang kepada ahli nujum dan dukun. Yang penting anaknya dapat jodoh, Tapi setelah sekian lama tetap tak mendapat hasil. Rith’ah Al Hamka menjadi semakin bermuram durja. Hanya menatap cermin untuk memandang diri sambil terus bertanya, “Mengapa sampai hari ini tak juga kunjung datang orang yang akan menikahiku?”

Lalu datanglah seorang saudara jauh dari ibunya yang memiliki anak pemuda yang cukup tampan dan kemudian bersedia menikahi Rith’ah. Keduanya menikah. Namun, beberapa waktu kemudian pemuda itu menghilang. Ternyata keinginan pemuda itu menikahi Rith’ah hanya terletak pada hartanya yang berlimpah

Saking stressnya nih, akhirnya si Rith’ah membeli beratus gulung benang untuk dipintal. Lalu kemudian diuraikan lagi, lalu dipintal lagi, dan hal itu yang terus dilakukan sampai akhirnya ia meninggal. Begitulah asmara, bisa membuat orang menjadi gila. Dan kisah gadis Bani Makzum ini diabadikan dalam Al Quran Surat An Nahl 92

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain  Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.”

Semoga bermanfaat.[]

Materi ini disarikan dari acara Gathering alumni SPN angkatan 1, bertempat di gazebo utama kenpark, Ahad, 6 Mei 2012

thanks to :

1. Allah SWT

2. Ustad Agung Wicaksono

3. Tim SPN Surabaya


Pemenang #BloggerKartinian “Dari Gelap Menuju Cahaya”

Mei 7th, 2012, posted in Blogger Kartinian

Inilah saatnya pengumuman pemenang programnya Blogdetik yang seru abis dalam rangka ikut menyemarakkan hari Kartini #BloggerKartinian.

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak buat teman-teman yang telah berpartisipasi dan pihak-pihak yang telah sudi menjadi sponsor di lomba ini :) Ide yang kreatif, segar, dituturkan secara runut telah membuktikan bahwa perjuangan Kartini dalam dunia literasi telah menampakkan hasil. Dan pemenangnya adalah…

Juara 1 : akan mendapatkan kaos ekslusif persembahan dari Blogdetik + “PARTIKEL”nya Dee + dan souvenir dentist2011

Jika seorang perempuan memiliki pengetahuan yang tak kalah dari laki-laki, maka dengan sendirinya martabat diri akan terangkat, pemikirannya akan semakin tercerahkan.

http://mutiarabirusamudra.blogdetik.com/perempuan-dan-ketercerahan/

Juara 2 : akan mendapatkan Buku Twitografi Asma Nadia + Souvenir dentist 2011

http://daratangse.blogdetik.com/2012/05/05/kartini-literasi-itu-bunda-helvy/

Sekali lagi saya ucapkan selamat kepada para pemenang. Kalau sudah baca postingan ini, segera kirimkan email data diri, alamat, dan nomor telp dengan subject Pemenang Lomba #BloggerKartinian Dari Gelap Menuju Cahaya ke   read more 17 comments