“Boleh saya tanya kepada kalian, kira-kira hal tidak enak apa yang terbayang dalam sebuah pernikahan?” *perlu jadi catatan yang ditanyai ini pada belum nikah.
Ada yang menjawab, “Kalau setelah menikah ternyata nggak sreg.” Ada juga,“Kalo nggak punya visi dan misi yang sama.”
“Sebetulnya jawabannya cukup mudah, nggak enaknya cuma satu, kok nggak dari dulu-dulu saya nikah.”
Grrrrhhh!!!
Banyak kondisi riil di lapangan seperti KDRT, perselingkuhan, mulai terbukanya aib masa lalu yang akhirnya menjadi sumber pertimbangan bulatnya keputusan untuk menikah. Dari semua kasus itu menjadi pe-er buat kita semuanya untuk mencoba mengaplikasikan teori yang sudah didapatkan ke dalam kondisi riil tadi. Agar tidak ada orang yang menganggap bahwa pernikahan itu adanya yang indah-indah saja.
Usia pernikahan pun akan menjadi penentu. Biasanya dapat dilihat dari 3 tahun pertama bagaimana sepasang suami istri membangun pondasi rumah tangganya. Oleh karenanya banyak artis dan masyarakat di sekitar kita yang akhirnya memilih cerai karena gagal dalam membangun pondasi pernikahannya. Pernikahan hanya dijadikan sebagai sarana uji coba (trial and error). Kebanyakan disebabkan karena otoritas yang berlebihan, kelas yang lebih tinggi, dan kecantikan atau ketampanan fisik yang menjadi ukuran ketika memilih pasangan.
Mau Nikah atau Siap Nikah?
Ada yang tahu perbedaan antara keduanya? Ya, mereka yang mau menikah belum tentu siap, tetapi yang siap sudah pasti mau. Ada yang sudah siap tapi nggak mau nikah? (*perlu dikasih tanda tanya besar, nih). Menikah adalah kebutuhan dasar sebagai manusia. Tetapi hal utama yang harus didahulukan sebelum banyaknya kriteria yang akan diminta kepada calon pasangan tak boleh lebih dari bagaimana komitmen dan keimanan yang harus tertancap kuat dalam diri untuk menghadapi setiap jengkal proses yang akan dilalui ke depan. Seperti seorang dokter yang dianggap melakukan malpraktek karena sebuah kejadian yang tidak diinginkan (adverse event), pernikahanpun bisa jadi demikian, riil dan harus dihadapi.
Berdasarkan pengamatan pembicara dari realita, ada 8 faktor atau alasan mengapa akhirnya seseorang tak juga memutuskan SIAP menikah :
Pertama, masih punya tanggung jawab keluarga. Kebanyakan dan biasanya alasan ini dari pihak laki-laki, apalagi ketika ia menjadi tulang punggung keluarga (*bukan bermaksud menghakimi. Mau protes? Silakan.)
Kedua, karena saya belum mapan (cukup). Persoalannya kemudian, angka kecukupan itu berapa? Walaupun kita harus realistis bahwa pernikahan itu memang butuh biaya.
Banyak yang kemudian bertanya, “Ustad biasanya pernikahan itu butuh uang berapa?”
“Kamu punya uang berapa?” Tanya ustad balik. “500ribu habis, 100 juta habis, 1 milyar pun habis. Bandingkan antara pesta pernikahan artis yang digelar hingga menghabiskan dana bermilyar, dengan mereka yang menikah di sudut-sudut mushola dan hanya menghabiskan dana tak lebih dari 500ribu.”
Jadi tidak ada ukuran yang jelas untuk sebuah kemapanan. Makanya harusnya tidak boleh dijadikan sebagai alasan. Ingatlah janji Allah berikut :
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (An Nuur 32)
Dan sungguh, menunda pernikahan berarti kita terhalang untuk membentuk sebuah keluarga agar semakin banyak menebarkan kebaikan di masyarakat.
Ketiga, merasa punya kekurangan dan nggak pede, terjebak pada hal-hal fisik, dan selalu ingin tampil secara sempurna
Ada cerita seorang lelaki, buta, dan Allah menakdirkan ia mendapatkan jodoh dengan kondisi yang sama. Dan mereka pede-pede aja tuh. Subhanallah anaknya cantiknya luar biasa dan normal. Anaknya inilah yang kemudian menuntun kedua orang tuanya berjalan-jalan keliling kota.
So, ingin tampil secara sempurna itu sah saja, tapi kalau kitanya memang biasa saja ya terima. Gemuk dan kurus itu perlu disyukuri. Dan untuk mengurangi ketimpangan karena ketidakpedean seharusnya keduanya berkomitmen untuk saling mengisi.
Keempat, kurang sreg dengan pasangan yang ditawarkan saking perfesksionisnya kita
Tak jarang tiap individu memiliki kriteria setebal anggaran APBD. Dan semuanya tak luput dari kriteria fisik dan duniawi. Introspeksilah terhadap diri masing-masing. Yakini bahwa yang mendapatkan pasangan yang cantik dan ganteng itu belum tentu enak. Suami ganteng, jalan di mall, eh istrinya sewot kalo suaminya dilihat orang. Dapat istri cantik, digodain orang, bingung lagi.
Kelima, trauma dengan kegagalan masa lalu
Biasanya jika sudah membawa dampak pada aspek ruhiyah hal ini perlu penanganan khusus melalui konselor. Beberapa kali gagal dalam sebuah proses menuju pernikahan bisa jadi trauma tersendiri. Dapat cerita dari seorang kawan yang akan menikah. Dari pihak laki-laki dan perempuan sudah setuju, undangan sudah disebar, semuanya sudah siap. Tapi H-1 tiba-tiba pihak perempuan membatalkan. Alasannya sih saya kurang tahu. Tapi lihatlah betapa besar dampak yang akan ditimbulkan pada pihak laki-laki? Oh, ini masih mending.
Ada yang sudah menikah, ijab qabul, manten disalami oleh tamu yang berdatangan. Tapi hari-hari setelahnya menjadi hambar karena selama 3 hari berturut-turut sang istri tak disentuh sama sekali. Dengan alasan pihak laki-laki, baik manten maupun orang tuanya kurang sreg. Dan itu tidak dibicarakan sebelum menikah, sebelum akad, sebelum ijab qabul.
Keenam, kurang iman - sudah jelas ya
Ketujuh, masih konsentrasi dengan amanah lain
Kedelapan, jodoh yang tak kunjung datang
Inilah yang paling sulit untuk kita jawab. Karena semuanya ada hak prerogativ Allah semata. Yang bisa kita lakukan adalah menanti dan sabar. Kisah berikut mungkin bisa diambil ibrahnya oleh pembaca semua.
“Oh ibu, usiaku sudah lanjut, namun belum datang seorang pemuda pun meminangku. Apakah aku akan menjadi perawan seumur hidup?” seorang gadis, kaya raya, dari Bani Makzum bernama Rith’ah Al Hamka *hemm, yang kaya aja bingung cari jodoh, apalagi kita yang biasa aja.
Kemudian si ibu datang kepada ahli nujum dan dukun. Yang penting anaknya dapat jodoh, Tapi setelah sekian lama tetap tak mendapat hasil. Rith’ah Al Hamka menjadi semakin bermuram durja. Hanya menatap cermin untuk memandang diri sambil terus bertanya, “Mengapa sampai hari ini tak juga kunjung datang orang yang akan menikahiku?”
Lalu datanglah seorang saudara jauh dari ibunya yang memiliki anak pemuda yang cukup tampan dan kemudian bersedia menikahi Rith’ah. Keduanya menikah. Namun, beberapa waktu kemudian pemuda itu menghilang. Ternyata keinginan pemuda itu menikahi Rith’ah hanya terletak pada hartanya yang berlimpah
Saking stressnya nih, akhirnya si Rith’ah membeli beratus gulung benang untuk dipintal. Lalu kemudian diuraikan lagi, lalu dipintal lagi, dan hal itu yang terus dilakukan sampai akhirnya ia meninggal. Begitulah asmara, bisa membuat orang menjadi gila. Dan kisah gadis Bani Makzum ini diabadikan dalam Al Quran Surat An Nahl 92
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.”
Semoga bermanfaat.[]
Materi ini disarikan dari acara Gathering alumni SPN angkatan 1, bertempat di gazebo utama kenpark, Ahad, 6 Mei 2012
thanks to :
1. Allah SWT
2. Ustad Agung Wicaksono
3. Tim SPN Surabaya