Jadi Blogger, Cara Mengeksiskan Diri di Usia Seperempat Abad

Kriiiing! Perlu pembaca ketahui, itu adalah bunyi alarm yang menunjukkan bahwa setelah jarum jam menunjuk angka 12 tepat tadi malam, usia saya sudah memasuki seperempat abad menurut penanggalan masehi (kalo menurut penanggalan hijiriah pasti lebih tuir lagi hihi). Tidak ada hadiah atau pesta, saya sendiri pun tak pernah mengharapkannya, karena saya lebih suka menghabiskan waktu untuk nulis blog ini (hmmsesuatu ^__^).

Jomblowati seperti saya di hari ulang tahun, agendanya paling juga tak jauh dari mengobati sakit hati pada diri sendiri di Kota Surabaya yang ramai ini. Saya nggak terlalu rongseng lah soal siapa saja orang yang ingat hari ulang tahun dan memberi ucapan selamat kepada saya, dengan siapa saya akan ditraktir makan atau mau diajak jalan-jalan kemana, karena kebetulan hari ini lagi puasa, hehe. Jadilah saya mengajak adik untuk menemani ke tempat favorit yaitu toko buku berdiskon, mal yang ada toko bukunya, kafe yang ada toko bukunya, jalan-jalan yang sepanjang saya lewati ada toko bukunya, supermarket yang ada di mal dan bisa ke toko buku sehabis belanja, ke rumah sakit yang ada toko bukunya (mulai ngaco) dengan catatan kesemuanya memberikan diskon yang bikin saya berteriak histeris.

Sebagai blogger kehidupan saya pun tak jauh dari nge-blog . Tentu predikat ini secara naluriah akan mendorong seseorang untuk mau meningkatkan kemampuan dalam bidang tulis menulis. Salah satu penceramah kondang pernah bilang teko itu akan selalu mengeluarkan sesuai dengan isi tekonya. Kalau yang keluar kopi, isi tekonya juga kopi. Kalau keluarnya air isinya yang pasti bukan teh lah. Artinya, konten atau isi blog secara tidak langsung mencerminkan diri penulisnya. Kalo isi tulisannya berisi, itu adalah salah satu bentuk ikhtiar (usaha) kita untuk berkontribusi sebagai blogger. Kalau isinya spam (sampah), bukan maksud hati mengatakan tong sampah, ya silakan diartikan sendiri lah.

Selama menjadi blogger, saya menulis dari apa yang saya pelajari, setiap detik, menit, jam, sepanjang hari. Baik itu dari hasil membaca, melihat satu atau serangkaian kejadian, mendengar (a.k.a nguping, menjadi pendengar a.k.a tempat curhatan orang, asal jangan nguping gosip), berinteraksi dengan orang lain dan alam di sekitar (termasuk dengan cuplis, kucing kesayangan saya), dan menerawang (kalo yang ini saya nggak bakat).

Berdasarkan kebutuhan pokok itulah saya pribadi sangat membutuhkan banyak referensi untuk memperkaya isi blog yang saya pelihara. Biar nggak dikata blog-nya hasil copas dan tidak memberikan warna. Ya, intinya melalui apa yang saya dapatkan bisa memperkaya khazanah keilmuan saya gitu (jiah) dan membuat blog menjadi hidup dan menjadi sumber kehidupan bagi yang lain, yang kebetulan mampir di blog saya.

Tapi sebagai seorang blogger kadang kita bersirobok dengan kondisi jenuh, pikiran penat, sampai berjam-jam di depan laptop yang ditulis pun nggak berisi (tulisan) alias masih kosong (ora ono apa-apane). Oleh sebab itu harus ada yang namanya bank data (izin meminjam istilahnya Bu Srikit Syah). Biasanya saya mengategorikan berbagai temuan artikel dan info dalam folder bernama bank data tersebut.

Saya kurang suka nge-blog sambil cari referensi dengan berselancar di internet. Bikin mata saya tambah silinder dan minusnya (baca:berat di ongkos mau beli kacamata lagi), selain itu nggak bisa dikoleksi di rak pribadi kalau ingin dibaca ulang. Dan yang paling sering menghambat seseorang menuangkan ide tulisan adalah karena kebanyakan mantengin statusnya orang di sosial media sampai lupa waktu. Intinya nggak akan bisa fokus.

Berawal dari kegemaran suka membaca dan maniak beli buku berdiskon gila-gilaan, tentu saja blogger yang bookaholic dan ratu diskon (khusus buku) seperti saya tak bisa lepas dari yang namanya toko buku. Inilah beberapa referensi toko buku langganan saya di Surabaya untuk sama-sama dianalisa dan dikoreksi pembaca apabila salah. Dan buat yang masih mikir-mikir (enggan) ke toko buku jadi lebih semangat nggak ke toko buku (loh).

Gramedia : Dari performance dimana-mana toko buku ini tampil lux. Buku keluarannya oke punya, koleksi buku impornya juga lengkap. Tingkat kenyamanan pelanggan no comment lah. Tapi not recommended deh kalo buat saya yang kantongnya puasa senin kamis. Jujur nih, karena buku-buku di sini jarang didiskon (dimanapun). Mau pergi Jakarta sampai ujung pulau Jawa (ada ya?) nggak bakal ada diskon kalo nggak lagi pameran (di gramedia expo misalnya). Kalaupun terpaksa mau beli buku di sana, saya pun harus rela menunggu potongan kupon diskon tambahan 10% setiap bulan dari guntingan di pojok sampul depan majalah langganan saya (ngenes, Rek).

Gunung Agung : Hampir sama dengan Gramedia. Dari sisi performance, pelayanan pengunjung, koleksi buku, dan sama juga dalam hal harga. Tiada diskon di antara kita. Tapi kalau mau cari buku bergenre klasik, gunung agung bisa menjadi tujuan.

Uranus : terakhir kali saya ke sini 2 tahun yang lalu. Fasilitas masih sama. Tingkat kenyamanan untuk pengunjung masih terbilang kurang. Tetap masih banjir diskon seperti dulu, tapi sayang buku-bukunya kurang lengkap. Dan sepertinya mulai kehilangan pelanggan setianya.

Toko Buku Manyar : saya cuma pernah ke tempat ini sekali. Sama seperti Uranus, buku-bukunya kurang lengkap. Diskonnya pun kurang sreg di hati saya. Tingkat kenyamanan untuk pengunjung juga kurang karena parkirnya teramat susah. Waktu itu saya ada pengalaman nggak enak sama tukang parkirnya, jadi males ke sana lagi. Salutnya Toko Buku Manyar sangat mendukung gerakan pemberantasan buta aksara dengan menyumbangkan beberapa bukunya, ini terjadi waktu saya ngajukan proposal KKN 2 tahun yang lalu.

Mizan, Karah Agung : tempatnya agak jauh dari keramaian kota. Tapi buat yang doyan baca novel terbitan bentang, mizan, kaifa, bisa ubek-ubek di gudangnya. Harganya pun relatif murah kalau terbitan lama. Yang baru pun tak kalah diskonnya. Pastinya hampir semua toko buku di Surabaya yang memiliki stok buku terbitan mizan ambilnya disini.

Togamas : Di Surabaya boleh dibilang toko buku ini menjadi pilihan favorit para maniak buku. Fasilitias untuk pengunjung terbilang wahid, karena ada beberapa tester buku yang bisa dibaca sambil duduk. Bahkan saya dapat cerita dari teman ia belajar soal SPMB dari buku-buku yang dijual di togamas tanpa membeli (cuma dicatetin aja), dan Alhamdulillah sekarang sudah jadi orang sukses. Dan untuk mahasiswa diskon buku pelajaran dan textbook di sini terkenal menggiurkan. Apalagi pas tahun ajaran baru. Tapi saya masih pikir-pikir kalau mau beli novel dan sejenisnya karena ada satu toko buku baru yang bikin saya bolak balik datang ke sana.

Rumah buku : sangat menggirukan untuk orang seperti saya. Sering saya datang bolak balik buat ngecek harga beberapa buku yang hampir sama dijual di togamas bahkan di Mizan. Demi ngebela-belain diskon 5% saya rela bayar parkir sampai 2 kali untuk mendapatkan serialnya Enid Blyton yang 5 sekawan. Rasanya beda aja gitu kalo ada diskonnya (yah, secara saya sebagai predikat ratu diskon), tempatnya kurang nyaman karena pelanggan tidak diberikan kursi buat baca, bukunya juga kadang nggak ada testernya, pelayanannya kurang memuaskan karena karyawannya kurang cekatan, dan karena masih baru, jadi mungkin koleksi bukunya kurang lengkap dan so HOT

Media Idaman : Buat anda peminat buku-buku agama Islam, inilah gudangnya. Salah satu distributor buku islam nomor wahid di Surabaya yang terletak di depan gunawangsa apartemen yang sedang dibangun di daerah menur pumpungan. Toko bukunya tampak kecil dari depan, tapi begitu masuk pembaca akan dimanjakan dengan bersusun rak-rak yang dipenuhi buku. Diskonnya pun bikin saya tak mau berpaling untuk menjadi pelanggan setianya, 30-35% setiap hari. WOW!

Toko buku di Blauran, Kampoeng ilmu, dan jalan semarang : kalau yang ini jangan tanya lagi, yang sudah terpakai pun laku dijual, apalagi yang masih baru. Sayangnya buku-buku yang ditawarkan adalah hasil bajakan. Lhah, padahal kan kita sering kampanye anti pembajakan hak cipta.

Yang saya inginkan dari Surabaya
Saya masih ingat 3 tahun lalu bersama kawan ngocol saya, Evy Kurnia, yang kini ada di ujung barat Indonesia, sangat gencar cari berita pameran buku dan kesempatan bertemu dengan penulis dan jurnalis Surabaya yang sebelumnya namanya hanya bisa kami baca di koran atau majalah. Yang saya harapkan, pemerintah kota Surabaya mau menumbuhkan minat baca kepada masyarakat melebihi minat belanja bulanan mereka. Adapun menjadi penting kalo minatnya itu belanja buku, tak masalah (secara^___^). Saya rindu dengan book fair yang sempat diadakan di Balai Pemuda. Saya pikir itu akan menjadi acara tahunan dan booming di tahun berikutnya. Saya tunggu-tunggu ternyata nggak ada juga, sedih banget. Akhirnya saya usahakan menyempatkan diri pergi ke Jogja atau pesan ke teman waktu Islamic Book Fair di Jakarta untuk sekedar nyari buku diskon.

Membuka usaha toko buku sendiri
Ketika minat baca itu tumbuh begitu menggebu dan kebetulan ada teman yang menawarkan diri untuk menjadi investor, jadilah saya dan beberapa teman mendirikan toko buku. Memang tidak ada lapak sebenarnya sehingga untuk menjual sempat ikut beberapa kali bazaar dan membuat online bookstore. Hal tersebut adalah atas inisiatif kami untuk memberikan solusi kepada mahasiswa dengan menawarkan harga buku yang bersaing. Tapi seiring berjalannya waktu, dengan berbagai kesibukan, dan beratnya beban yang saya alami sebagai marketing akhirnya capek sendiri. Alih-alih ingin jual buku lebih murah dari semua toko buku yang sudah saya sebutkan di atas, tiba-tiba bisnis tersebut macet di tengah jalan dengan alasan yang sampai sekarang belum saya mengerti. Rupanya memang Allah berkehendak lain.

Tapi impian saya tetaplah masih tergantung di langit. Butuh usaha, kesungguhan, dan do’a untuk bisa menggapainya. Tetap menjadi blogger, menjadi warga Surabaya yang baik, punya segudang mimpi tentang buku, toko buku dan diskonnya, dan ribuan alasan dengan berbagai cara untuk meraihnya. Semoga tercapai pada saat yang tepat. Amin


2 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Tags:

7 Responses to “Jadi Blogger, Cara Mengeksiskan Diri di Usia Seperempat Abad”

  1. nophakartika Says:

    raihlah cita cita mu…gapailah mimpi mimpi mu.. selalu berdoa dan berusaha…
    semoga bermanfaat :)

  2. najwafahrini Says:

    @nophakartika : terima kasih sudah berkunjung ^^

  3. Bunda Qq dan Nindy Says:

    satu satunya toko buku di tempatku (citeureup - cibinong) gramedia di ITC, tapi udah sebulan lalu tutup…… alasanya sepi pengunjung ….
    sediiiih banget…!!!!
    sekedar pengen beli buku-buku soal buat belajar qq adja mesti jalan jauuuh…. kalo gak ke bogor ke jakarta……

    ini lagi pengen beli buku-buku ketrampilan…. tapi jauuhnyaaa…..
    selak ilang mood e rek…. kata temen ku : “dusun banget sih tempat mu…. ” hehehe

  4. Bunda Qq dan Nindy Says:

    eeh, hampir lupaa…..!!!!
    selamat ulang tahun ya Djeeeng….
    semoga umurnya berkah, manfaat dunia ahirat…. amiiiin

  5. najwafahrini Says:

    @Bunda Qq dan Nindy : eh ada bunda, tumben baru keliatan gitu…di plaza surabaya juga baru beberapa bulan ini cabang gramedia tutup bun. Ya, kayaknya lagi mengalami keguncangan jiwa gitu, hehe. iya bun, makasi doanya

  6. yuniarinukti Says:

    Review Toko bukunya ‘gue’ banget itu.. hihi
    Hampir tiap minggu saya jalan-jalan ke Gramedia Royal Plasa lho.. eits jangan heboh dulu.. saya kesana bukan mau memborong buku, tapi cuma lihat-lihat buku baru.. selanjutnya? sama kayak Mbak belinya lari dulu ke Toga Mas, nyari diskonan hihi.. eh tapi sejak ada Rumah Buku itu saya jadi keranjingan ke sana karena diskonnya lumayan 20-25%
    Oya.. Toko Buku Mizan itu disebelah mana sih Mbak? dekat gak sama Jawa Pos? pernah denger sih cuman belum pernah kesana..

    Oya.. Salam kenal ya Mbak.. :) *gurung kenal kok wes SKSD* :D

  7. najwafahrini Says:

    @yuniarinukti : wah mbak, ternyata kita punya sifat dasar yang sama (baca : suka diskonan), hehe.
    di karah agung. iy di depannya temprina media grafika PASSS. gtw kalo sekarang udah tutup atw belum. soalnya itu macam gudang, n toko bukunya kecil. jadi kalo dari luar g keliatan. yuk kapan2 kita kesono bareng. tp sebenernya diskonnya hampir sama ky rumah buku kok

    salam kenal juga y mb, gpp SKSD, biar kenal n deket beneran ^___^

Leave a Reply