Ketika Calo Masuk Kampus

Calo atau makelar yang kita kenal saat ini mungkin identik dengan profesi yang menjamur ketika musim liburan dan lebaran tiba. Mereka bertebaran di stasiun, di bandara, terminal, pelabuhan, dengan menawarkan tiket perjalanan yang susah dicari (karena habis terjual) dengan harga yang berkali lipat. Calo bisa juga berarti mereka yang menawarkan jasa, menjadi perantara, atau menjanjikan para pelamar lulus ujian. Dan perlu pembaca ketahui bahwa saat ini calo pun telah merambah dunia kesehatan khususnya kedokteran gigi selama 5 tahun terakhir ini.

Kesulitan mahasiswa di kedokteran gigi adalah tuntutan requirement untuk mendapat kasus penyakit gigi yang cukup sulit dan kompleks. Apalagi sekarang  pasien yang datang di klinik tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang ada. Sehingga jika tidak berusaha untuk menawarkan jasa melalui penyuluhan kepada masyarakat, mahasiswa akan cukup kerepotan memenuhi requirementnya. Selain itu dari calon pasien pun kebanyakan menolak dengan berbagai alasan, mulai dari tak adanya waktu luang, sibuk dengan urusan yang lain, dan biaya perawatan yang cukup mahal. Dengan kondisi seperti inilah, para calo itu melihat adanya peluang “bisnis” di sana.

Kami menyebutnya sebagai makelar pasien, BCL - bu calo (bukan bunga citra lestari). Sindikat [owh, segitunya] ini terdiri dari 2-3 orang, tersebar tidak hanya di satu kampus saja, tapi di beberapa kampus kedokteran gigi lain baik yang ada di dalam maupun di luar Surabaya. Di tengah sulitnya kehidupan ekonomi, calo pun menjadi profesi yang cukup menjanjikan bagi mereka. Suerr deh!!! Karena penghasilan rata-rata per orang mencapai 150-200K dalam satu hari saja. Bayangkan, sekali membantu mendatangkan pasien yang dipesan, mereka bisa mendapatkan upah 70K untuk 1 pasien. Kalau mereka bawa 10? Hitung sendiri. Dengan modal jejaring yang cukup kuat dan handphone di tangan, transaksi pun dimulai.

Seperti calo pada umumnya, harga jasa yang mereka tawarkan cukup mahal [terlalu mahal bahkan untuk anak kos seperti saya]. Selain calo, pasien pun diberi imbalan 25-50 ribu. Itu tergantung dari kesulitan kasus yang diminta mahasiswa. Sehingga, jika dibutuhkan perawatan gigi dengan kategori non one visite, sebelum akhir bulan pun semua memiliki penyakit kanker [alias kantong kering] karena uang sudah terkuras habis untuk membiayai calo dan perawatan administratifnya. Perlakuan berbeda diberikan kepada pasien anak-anak, karena mereka lebih mudah marah dan rewel. Biasanya kami menyebutnya paket lengkap, jemput, makan siang/ kue, dan antar pulang.

Apa saja yang dilakukan para calo itu?

Bagi yang pernah menggunakan jasa calo transaksi yang dilakukan cukup sederhana. Kita sebagai customer hanya tinggal memesan calon pasien 2 atua 3 hari sebelumnya, dengan menyebutkan kriteria pasien yang sibutuhkan. Calo-calo ini sudah pasti akan mengerti. Misalnya saja kasus sariawan mayor dengan diameter minimal 5 cm. Setelah ada kata sepakat kapan pasien itu harus didatangkan transaksi pun selesai. Pada waktu dan tempat yang telah ditentukan calo itu mempertemukan “sang korban” dengan operator [mahasiswa]. Namun tak jarang dari beberapa pasien yang mereka bawa tak memenuhi kriteria yang diinginkan para instruktur klinik, sehingga tak jarang pula mereka memulangkan “korbannya”.

Mereka sudah memiliki jejaring di kalangan mahasiswa. Sehingga, jika ada salah seorang teman yang ingin bergabung “menjadi anggota” mereka hanya tinggal memesan pasien via telepon dan meninggalkan nama. Rupanya semakin hebat saja teknologi membuat seseorang menjadi kreatif.

Cara lain yang mereka lakukan di awal saya masuk klinik semester dulu 5 adalah mencari “korban”. Mereka adalah calon pasien yang baru datang pertama kali ke klinik dan sedang menunggu antrian untuk diperiksa. Setelah  berkenalan dan ngobrol seperlunya sang calo beraksi dengan menawarkan imbalan jasa atas kedatangan mereka, sehingga tak jarang calon pasien meminta biaya administrasi digratiskan [alias dibayari oleh mahasiwa]. Dari sini kemudian muncul kebingungan karena antara sang operator dan calon pasien tidak ada kesepakatan sebelumnya.

Dimana kalian bisa menemukan mereka?

Dulu ketika penggunaan jasa calo masih ilegal mereka harus kucing-kucingan dengan pihak kampus. Tapi sekarang mereka bisa ditemui dengan mudah di kantor pos atau di dekat jembatan penyebrangan menuju RSUD Dr Soetomo. Kalau nggak ketemu tinggal sms aja dan mereka akan datang menghampiri customernya di klinik.

BCL bagi saya

Jujur saya sendiri pun pernah menggunakan jasa calo. Dan bagi saya mereka sangat membantu. Waktu itu kasus yang saya cari memang rumit, seakan dihadapkan masalah tanpa pilihan, dan saya terancam nggak lulus kalau tak mendapatkan kasus itu. Saya sudah memiliki calo langganan yang pasang tarif jauh lebih murah dibanding BCL yang ada di depan kantor pos, hanya 25K. Dia seorang tukang becak yang sering mangkal di depan kampus, namanya Pak Tomo *bukan nama sebenarnya. Itikad saya ketika membayar Pak Tomo adalah mengganti ongkos narik becaknya selama mencarikan pasien untuk saya. Dan saya niatkan membayar pasien yang didatangkannya adalah mengganti ongkos kendaraan selama bolak balik datang dan giginya rela untuk “dikorbankan”. Hmm, semoga ini menjadi penebus dosa saya.

Calo sekarang itu…

Seiring berjalannya waktu pihak kampus pun tak lagi mempermasalahkan keberadaan mereka. Bahkan ada yang terang-terangan menyarankan untuk menggunakan jasa mereka agar cepat dapat pasien dan segera lulus. Sudah menjadi rahasia umum rupanya. Dan beberapa teman seprofesi pun akhirnya ikut-ikutan menjadi calo. Tak hanya mencarikan pasien, mereka pun membantu mengerjakan pasien mahasiswa yang “enggan” repot dengan klinik. Tentunya ini berlaku bagi mereka yang berkantong tebal.

“Buat apa beli alkohol sebanyak itu?” tanya saya pada seorang teman ketika kami sama-sama belanja di depo.

“Aku dapat pesanan.”

“Hweee iya? Pesanan apa? Sekarang nyarikan mereka pasien juga, Ki? Jadi PCL dong.”

“Opo iku?”

“Pak Calo, hehe.”

“Nggak cuma nyarikan, ngerjain juga.”

Jawabannya barusan membuat saya tercengang. “Hah? Maksudnya kamu yang ngerawat pasien mereka? Dapat upah berapa?”

“Pokoknya SPP bulan depan gratis lah, sisanya lumayan juga buat melanjutkan hidup dan jajan,” katanya berkelakar.

“Eh, siapa gitu?”

“Ada lah, teman seangkatan kita ada, aku aja ngerjakan 5.”

Saya cuma ber “ooo” panjang lalu menggigit bibir, rasanya wajah ini merasa tercoreng melihat perilaku OKNUM (*saya katakan demikian karena memang nggak semua seperti itu) para calon klinisi seperti ini. Bagaimana menurut pembaca? Jujur saya terpukul dan sedih dan tak bisa lagi melanjutkan tulisan ini. []


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Tags:

9 Responses to “Ketika Calo Masuk Kampus”

  1. siesti says:

    yups.. it’s shocking..

    [Reply]

  2. siesti says:

    woow. yang bagian terakhir baru tau saya. Ada ya oknum kayak gitu? wow.

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @siesti : so sad kan…kagak usa nebak2 ya…oiya ti, aku mau minta bantuanmu untuk mendesainkan sesuatu. kapan luang? ayo ketemu..

    [Reply]

  3. mantap artikelnya..

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @lowongan kerja : terima kasih. ^__^

    [Reply]

  4. mupenx says:

    kayak di kampus 3*****. dimana pernah ada keributan antar calo. wakakakka ….

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @mupenx : wah, iya kah? saya jadi penasaran sama ceritanya. terus bisa selesai ribut2nya gmn? terima kasih infonya. salam kenal. btw, mahasiswa KG mana?

    [Reply]

  5. Flash custom says:

    nice nice :D

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @Flash custom : terima kasih sudah menghibur saya (*masih sedih). salam kenal :)

    [Reply]

Leave a Reply