Satu Keluarga Sejuta Warna

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Istana yang paling indah adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga

Mutiara tiada tara adalah keluarga

[OST Keluarga Cemara]

“Kelak ketika menikah, aku ingin proses pernikahannya seperti Abi dan Ummi,” kata Alia putri semata wayangku ketika kami merayakan hari “jadian” yang ke 18. Aku mencari tatapan istriku yang teduh, dan dia pun balas tersenyum kepadaku .

Kalau di restoran cepat saji kita kenal menu paket hemat yang berharga hemat pula, mungkin itulah uniknya pernikahanku. Sebut saja nikah paket superhemat. Kenapa? Karena aku menikahi istriku siang hari, bertepatan dengan bulan ramadhan, dan tanpa resepsi pernikahan yang gegap gempita seperti pesta pada umumnya. Kebayang kan betapa super duper hematnya? (silakan kalau mau ditiru). Belakangan baru kuketahui dari pengakuan bapak mertua bahwa cara pernikahanku ini membuatnya bangga karena tak banyak merepotkan keluarga besar dari segi persiapan dan dana.

Meminang Khadijahku

Betapa bersyukurnya aku memiliki istri seperti dia. 18 tahun lalu, jika aku tak jadi menikah dengannya, mungkin tak akan ada wanita yang mau menikah denganku dan hidupku tak akan seperti sekarang. Aku masih berusia 22 tahun dan istriku 2 tahun lebih tua dariku saat itu. Datang pada calon mertua dengan kondisi yang minus dalam segala hal termasuk soal penampilan (tak setampan dan sekeren sekarang) dan belum lulus kuliah. Apalagi dengan latar belakang keluarga yang bisa dibilang tak mapan pula. Ayahku seorang tukang parkir dan ibuku pedagang sayur di pasar.

Tapi tekadku sudah bulat karena sepenuhnya kuyakin dia adalah jodohku. Ya, baru kusadari ternyata dia adalah wanita yang dua tahun lalu pernah kulihat di salah satu kampus tempat aku mengisi pelatihan.

“Mungkinkah dia jodohku?” timbul pertanyaan saat itu, tapi hatiku mantap memilihnya. “Allah, aku akan menjaga-Mu (menjalankan perintah dan menjauhi larangan) maka jagalah aku (dari segala syubhat dan maksiat).”

Nikah paket superhemat

Dan Allah benar-benar membuktikan kebesaran-Nya. Sepekan setelah menerima biodatanya dari mentorku, kami bertemu untuk proses ta’aruf, setelah itu aku berjanji akan menemui orang tuanya 2 pekan kemudian.  Aku datang dengan kedua orang tuaku bersama beberapa kawan. Dengan 3 rombongan mobil. Ulahku ini ternyata cukup mengherankan bagi keluarga calon istriku.

Saat kami semua dipersilakan masuk dan diberi kesempatan bicara, kuutarakan niatku, “Kedatangan saya dan orang tua ke sini adalah untuk melamar Mbak Ratri sekaligus menikah dengannya hari ini juga,” tuh kan siapa yang nggak akan kelepek-kelepek kalau punya calon mantu nekad macam aku ini. Mau ditolak juga bingung karena aku sudah kadung membawa rombongan, mau diterima sama sekali tak ada persiapan.

“Mewakili putra saya, kami semua ingin minta maaf,” kata bapakku kemudian karena membuat keluarga calon perempuan shock. Ah, tapi kutahu calon istriku sangat suka dengan rencanaku.

Alhamdulillah setelah dilakukan lobbying antar orang tua, mereka sepakat bahwa kami akan dinikahkan siang itu juga setelah sholat Jum’at. Segera dibentuk panitia kecil yang memang sengaja kupersiapkan dari rumah. Pak penghulu dari KUA dan pemberi khotbahnya tak lain adalah Pak Lik ku yang seorang muballigh. Alhamdulillah acara berjalan sesuai dengan rencana.

Warna warni kisah cinta kami

Biduk rumah tanggaku bukanlah seperti air sungai yang tenang. Di tahun kedua pernikahan, kami mendapat cobaan. Kebutuhan rumah tangga semakin melonjak karena putri pertamaku lahir. Job untuk memberikan bimbingan les privat pun berhenti. Aku yang sudah lulus jadi sarjana pun tak juga mendapat panggilan kerja dari beberapa surat lamaran yang kukirimkan. Tapi aku bukanlah orang yang mudah putus asa karena hidup telah mengajariku bahwa di setiap jengkal tanah yang kutapaki pasti ada rezeki Allah di sana.

“Hmm…Abi ini memang sepertinya bukan tampang jadi karyawan ya, Mi,” kelakarku pada istriku. Melihatnya tetap tenang dengan kondisi seperti ini aku pun tak ragu dengan keputusan yang kuambil. “Besok Abi mulai narik becak. Punya Pak Samsul. Kebetulan seminggu yang lalu baru beli becak lagi.”

“Wah, subhanallah, benar-benar kebetulan ya, Bi,” ujarnya tetap tersenyum. Banyak cemoohan yang tak enak didengar. Tapi lihatlah, aku mulai sedikit mencerna rencana yang Allah tetapkan dengan mengirim wanita sholihah di hadapanku ini sebagai istriku.

“Di belakang lelaki hebat, pasti ada wanita yang hebat pula.” [Anonymous]

Tak banyak penghasilanku dari narik becak. Bahkan istriku rela hanya makan pindang goreng dan sepasang tahu-tempe, lalu menyisihkan sisanya untuk kebutuhan Alia. Dari hasil narik becak pula akhirnya aku bisa mengembangkan usaha distribusi kerupuk. Kuyakin tak selamanya akan bekerja seperti ini.

“Tenang Abi, idealisme itu harus tetap ditanamkan, Ummi percaya ini hanya pilihan antara saja.”

Ah, kalimat menyejukkan inilah yang membuatku selalu rindu akan rumah. Ada seseorang yang selalu menguatkanku, mendoakan, dan menantikan kehadiranku dengan kehangatan senyumannya.

18 tahun kemudian

“Ummi, Abi berangkat dulu ya.”

“Alia juga ya, Ummi.”

“Hati-hati di jalan ya, cinta…,” serunya sambil melambaikan tangan.

Pagi itu aku hendak mengantarkan putri semata wayangku registrasi ulang. Dia diterima di fakultas kedokteran salah satu PTN di Malang.

5 tahun setelah masa sulit itu mulai muncullah kemudahan. Aku mendapat pekerjaan lagi sebagai guru matematika di salah satu SMA favorit di Surabaya. Karena banyak waktu luang, kugunakan sisanya untuk mengisi training lagi, keahlian yang lama terkubur semenjak aku bekerja menjadi tukang parkir (setelah berhenti narik becak). Sekali lagi, jika kuingat 18 tahun yang lalu, jika bukan karena Allah mempertemukanku dengan istriku, mungkin aku tak akan bisa seperti sekarang. Istriku, I love you.

Sebelas Januari Bertemu
Menjalani Kisah Cinta Ini
Naluri Berkata Engkaulah Milikku
Bahagia Selalu Dimiliki
Bertahun Menjalani Bersamamu
Kunyatakan bahwa Engkaulah jiwaku

Akulah Penjagamu
Akulah Pelindungmu
Akulah Pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu

Pernahku Menyakiti Hatimu
Pernah kau melupakan janji ini
Semua Karena kita ini manusia

Kau bawa diriku
Kedalam hidupmu
Kau basuh diriku
Dengan rasa sayang

Senyummu juga sedihmu adalah Hidupku
Kau sentuh cintaku dengan lembut
Dengan sejuta warna

thanks to :

Ustad Akhmad Arqom


4 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Tags:

24 Responses to “Satu Keluarga Sejuta Warna”

  1. najwafahrini says:

    @tanaman obat : nanti kalo kemanisen jadi diabetes :)

    [Reply]

  2. tanaman obat says:

    so sweeeeeeeett…….

    [Reply]

  3. ya keluarga adalah segalanya

    [Reply]

  4. dien33 says:

    barokallah kulla syai’

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @dien33, @obat telat bulan : thanks for coming here. salam kenal ^^

    [Reply]

  5. bmb_TKJ says:

    artikel yang menarik :)

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @bmb_TKJ : terima kasih :)

    [Reply]

  6. Abu Fahry says:

    siiip manstab ….. :)

    [Reply]

  7. GN says:

    Haduu jadi kangen serial keluarga cemara ya? huhu.., kapan ada lagi..

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @GN : dan untuk meredam kerinduan pada serial itu, saya cuma bisa dengerin lagunya*g ada versi yang lebih bagus sayangnya…salam kenal
    @Abu Fahry : :) makasi sudah mampir

    [Reply]

  8. halimah_saja says:

    siipp…
    ahaayyy.. terinspirasi dari “agenda ahad” ya mbk.. :D

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @halimah_saja : iya :) sampe aq hampir nangis tauk…haduh2…wes mulai rame nih kalo ketahuan jeng halimah. Pasti ada “biang” nya. Matur nuwun sudah mampir

    [Reply]

  9. kusuma says:

    Aduh jadi pengen cepat2 berumah tangga, umur saya udah 22 trus pasangan saya jug amurnya dua2 tapi dia sudah kerja, malah saya masih kuliah aduh pusing juga ni kalau lakinya aj belom kerja,,, aduh ???

    [Reply]

  10. aziza says:

    kisah inspiratif…terharu juga :)

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @aziza : :) terima kasih
    @kusuma : ayo mas bro…tak semangati (seneng banget memprovokasi orang biar cepet menggenapkan setengah dien). Insyaallah kalau diniatkan untuk ibadah semua yang susah akan terasa ringan. Yang penting selalu ada semangat dan tak putus asa. dan mulai sekarang harus punya branding ke camer. Kerja apapun, asalkan halal. Untuk membuktikan kesungguhan anda dengan pasangan. kabari kalau undangannya sudah jadi. hehe

    [Reply]

  11. mastangguh says:

    hmmm. keren. ustad ahamd arqom ya, insyaAllah kenal dan tahu beliau. siiiip
    terima kasih mb, kisahnya menginspirasi

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @mastangguh : sama2 mas bro!! masih banyak kisah tentang beliau (ustad akhmad arqon) yang ingin saya tulis. terima kasih sudah mampir

    [Reply]

  12. dede210792 says:

    keren

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @dede210792 : terima kasih, semoga bermanfaat ^___^ salam kenal

    [Reply]

  13. tsefull says:

    mantap….keluarga bahagia

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @tsefull : kurang mas, sakinah mawaddah warahmah. semoga segera menyusul (lhoh…)

    [Reply]

  14. mantab…

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @aridiansetiawan : thanks for coming ^__^ semoga bermanfaat

    [Reply]

Leave a Reply