Ketika Badai Menerpa Biduk Rumah Tangga

Disadari atau tidak sebetulnya bangsa kita telah kehilangan jati dirinya. Westernisasi lewat media digadang-gadang menjadi faktor dominan penyebab rusaknya nilai ketimuran bangsa ini. Akibatnya ketika suatu bangsa yang manusianya telah kehilangan jati diri maka ia TIDAK AKAN PERNAH BERHASIL MENEMUKAN TUHANNYA. Individualis, materialistis, bahkan mungkin menjadi atheis. Naudzubillah.

Berbagai kekerasan dalam rumah tangga dan masayarakat sejatinya dipicu oleh kehilangan jati diri. Dan salah satu solusinya adalah dengan menanamkan nilai kekeluargaan (pengarus utamaan keluarga) di dalam diri seseorang. Jika mereka memiliki keluarga yang harmonis, tentulah segala masalah akan dipecahkan dan dicari solusinya di dalam keluarga. Bukan narkoba, mabok, minggat, apalagi bunuh diri.

Promote : Nah, salah satunya adalah dengan ikut SPN. Harapannya kelak sesuai dengan tujuan membentuk sebuah keluarga dalam ikatan suci pernikahan seperti yang telah saya paparkan di artikel sebelumnya adalah berperan positif dan konstruktif dalam rangka ikut membangun kehidupan sosial yang bermartabat dan unggul melalui keluarga mulia yang berhasil dibangun. Amin insyaallah.

Ini adalah lanjutan dari materi Pernikahan, Sebuah Wujud Cinta Tanpa Batas (bag. 2).

“Saya akan mengaskan kepada anda semua bahwa ketika keluarga anda masing-masing terbentuk, anda secara bertahap akan memaklumi bahwa hal-hal berikut akan sangat mempengaruhi perjalanan biduk rumah tangga.”

Apa saja? Cekidot :

Pertama, kondisi fisik biologis

Saat SPN kemarin ditampilkan video kick andy dengan tema Cinta Tanpa Batas (ada yang masih ingat?). Bener-bener mengharukan. Kisah seorang pilot yang wajahnya hancur karena mengalami kecelakaan pesawat. Saat itu ia sedang dalam proses bertunangan dan hendak menikah beberapa bulan kemudian. Tunangan si pilot tadi kemudian memohon kepada Tuhan agar diberikannya kesempatan hidup kepada sang pilot yang sedang terbaring koma. Ia akan menerima dengan lapang dada apapun keadaannya. Dia berjanji akan menyayangi calon suaminya dan mengabdi padanya. Doanya terjawab, dan mereka pun akhirnya menikah. Beginilah cinta, tak akan menderita jika tak dibatasi dimensi fisik semata. Hmmm…so sweet. Bisakah kita seperti dia ketika diberikan ujian seperti ini?

Kedua, corak dasar kepribadian masing-masing

[sudah jelas ya] – artikel wortel, telur, kopi

Ketiga, Ilmu pengetahuan yang dimiliki

Hal ini biasanya akan mempengaruhi birokrasi dengan mertua. Jika pasangan kita memiliki latar belakang keluarga berpendidikan tinggi, maka bersiaplah dengan berbagai adu argumen dan pertanyaan yang akan diberikan pada anda. Oleh sebab itu perbanyaklah membaca.

Keempat, Pengalaman-pengalaman hidup yang sudah dijalani

Kalau merujuk kisah bisa baca artikel sebelumnya. Apa yang telah dilalui oleh seseorang dalam hidupnya (kerja keras, pengorbanan, tantangan) kesemuanya akan memberikan nilai tambah dan kita bisa melihat proses apa saja yang terjadi menuju kedewasaan.

Kelima, Keluarga besar serta orang-orang dekat dalam kehidupan kita

Karena salah satu inti pernikahan adalah bersatunya 2 keluarga besar maka bersiaplah untuk berhadapan dengan saudara dari pasangan kita. Pak adik, kakak, tante, om, pak dhe dsb.

Keenam, Nilai serta idealisme kehidupan yang kita pegang serta hendak kita wujudkan

Ini penting karena sebuah keluarga tanpa idealisme tak akan berarti apa-apa. Hanya sebuah bangunan yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Sayang banyak kekuatan yang terhimpun namun tak bisa berbuat lebih baik. Jika sebuah keluarga tahu idealismenya (cita-cita tertinggi) maka akan mampu menghadapi cobaan kecil untuk meraih cita-citanya. Tak lekas menyerah dengan ujian, dan pengadilan agama pun tak dipenuhi kasus perceraian.

“Tapi tentulah walaupun kita memiliki idealisme dan pegangan sebagai pemeluk agama yang taat, goncangan dalam bahtera rumah tangga akan mempengaruhi situasi dan kondisi ke depan. Namun, saya berharap bahwa anda juga masih berkomitmen mengarahkan biduk rumah tangga tersebut kea rah ridho-Nya dengan menjadikannya sebagai rumah tangga unggul yang selalu memancarkan dan menebarkan kebaikan.”

Dan ternyata rupa-rupa persoalan itu ujungnya adalah memilih antara :

  1. Perbedaan pendapat atau kesepahaman dan saling pengertian
  2. Pertengkaran, atau persahabatan dan kesetiaan
  3. Kecemburuan atau kelapangan dada dan baik sangka serta positif thinking
  4. Sebagiannya perceraian atau kesetiaan dan kesatupaduan
  5. Ketidakpuasan atau qonaah dan kebesaran jiwa

Semoga pembaca nggak bingung dengan materi ini ya…maka dari itu ketika saya bingung saat membaca, saya akan menuliskannya kembali.

Berikut saya nukil sebuah nasehat mulia dari Umar Bin Khattab :

“Barangsiapa meninggalkan ucapan yang tidak perlu, maka dia akan diberi hikmah. Barangsiapa meninggalkan penglihatan yang tidak perlu, maka dia akan diberi kekhusyu’kan dalam hati. Barangsiapa meninggalkan makan yang berlebihan, maka dia diberi kenikmatan beribadah. Barangsiapa meninggalkan tertawa yang berlebihan, maka dia akan diberi kewibawaan. Barangsiapa meninggalkan humor, maka dia akan diberi kehormatan. Barangsiapa meninggalkan cinta duniawi, maka dia akan diberi kecintaan kepada akhirat. Barangsiapa meninggalkan perhatiannya kepada aib orang lain, maka dia akan diberi kemampuan untuk memperbaiki aibnya sendiri. Barangsiapa meninggalkan penelitian tentang bagaimana wujud Allah, maka dia akan terhindar dari nifaq”

“Oleh karenanya saya putuskan satu hal untuk secara serius dilakukan adalah secerewet mungkin mengampanyekan perlunya diri masing-masing untuk terus menerus melakukan perubahan pada semua aspek kehidupan (dimulai dengan kemampuan kita masing-masing) menuju kondisi yang lebih berdaya, unggul dan membahagiakan biduk rumah tangga kita,” pungkasnya mengakhiri sesi kedua SPN siang itu. Wallahu ‘alam bishshowab. Semoga bermanfaat.[]

thanks to :

1. Allah SWT

2. Sekolah Pra-Nikah

3. Ustad Akhmad Arqom


2 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Tags:

21 Responses to “Ketika Badai Menerpa Biduk Rumah Tangga”

  1. Cialis says:

    Your post is actually outstanding. Thanks awfully for that.

    [Reply]

  2. Hidayat says:

    Begitulah seharusnya cinta dimaknai sehingga akan terkuak betapa indahnya cinta itu. Bagi anda yang mempunyai keluhan sakit jantung, stroke, diabetes, kolesterol jahat, tekanan darah tinggi, dll. Silahkan klik HIDUP SEHAT DENGAN JAMUR LING ZHI Semoga Bermanfaat

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @Hidayat : :) tetep aja ada promosi. salam kenal
    @Desain Company Profile : terima kasih sekali :D

    [Reply]

  3. nano says:

    di setiap badai pasti ada warna pelangi yg menghiasi dan di setiap maslah pasti ada jalan keluarnya. semakin kita di terpa badai semakin kita kuat untuk menghadapi ny

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @nano : “Rasulullah Bersabda : Dan ketahuilah bahwa kelonggaran ada bersama kesempitan, sebab bersama kesulitan terdapat kemudahan” ^__^
    “Dan Dia-lah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menebarkan rahmatNya” (QS. Asy Syuara 28)

    [Reply]

  4. Cialis says:

    letter of thanks for publishing this article. It is really useful for me.

    [Reply]

  5. viakeating says:

    artikel yg bagus..
    dan pasti bermanfa’at..
    khususnya buat saya pribadi..
    شكرا..

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @viakeating : terima kasih
    @dyrus : namanya aja rumah tangga, butuh pondasi taqwa, berlantai , berjendela bashiro, berpintu kan islam, ber ac iman, beratapkan ihsan *lha kok jadi nyanyi. makasi sudah mampir –kunjungan balik
    @Obat Herbal Diabetes : tapi tak serumit kasus korupsi dan hukum di Indonesia :)
    @Obat Herbal Gondok : kemarin nonton video itu ditemani lagu nya gigi 11 januari *makin banjir air mata
    @maiafatma : semoga goresanku bisa terpatri di hatimu, dek. ^^
    @goooo : semoga tetap menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah sampe kakek nenek ^^ — kunjungan balik

    [Reply]

  6. dyrus says:

    Slalu istiqomah……karena perbedaan pasti ada, warna kehidupan RT

    [Reply]

  7. Cialis says:

    I’m grateful for writing this information. It is really useful for me.

    [Reply]

  8. keren artikel nya..
    rumah tangga memang sangat rumit.

    [Reply]

  9. saya terharu sekali dengan cerita yang pertama yang cinta tanpa batas,,,bener2 cinta yang tulus,, saya setuju sekali dengan pendapatnya mbak,,

    [Reply]

  10. maiafatma says:

    syukran mbak atas goresanya…:)

    [Reply]

  11. goooo says:

    1 tahun berlalu kami jalani bahtera rumah tangga, alhamdulilah baik2 saja
    smoga tips ini bisa kita terapkan ketika hal itu terjadi,

    thank banget ya tulisannya

    mampir di catatan kusam
    http://goooo.blogdetik.com/

    [Reply]

  12. agus alfattan says:

    Sepakat mbak. Kita memang harus mencintai pasangan kita tanpa batas. Apapun kelebihan dan kekurangannya. Karena setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan.
    http://www.catatansikecil.blogdetik.com

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @agus alfattan : karena “aku” bukanlah manusia tanpa cela *wah jadi terinspirasi bikin cerpen. terima kasih kunjungannya. Salam kenal *saya akan melakukan kunjungan balik

    [Reply]

  13. MbaheAriel says:

    artikelnya khusus buat yang udah nikah ya mbak ???

    [Reply]

  14. sangat mengsinspiras memang cinta tak bersyarat….

    [Reply]

  15. oje says:

    Mantap artikelnya

    [Reply]

    najwafahrini Reply:

    @oje : terima kasih.
    @lowongan kerja : semoga bermanfaat
    @MbaheAriel : oh, tentu tidak. Tagnya aja SPN : sekola pra nikah (jadi buat yang belum nikah). Ini sebagai bekal khusus buat peserta (dan pembaca) supaya ketika memasuki jenjang pernikahan tak lagi seperti menyusuri hutan belantara. Buat yang sudah nikah dan mungkin dalam perjalanannya terdapat masalah, artikel ini bisa dijadikan sebagai pengingat tentang tujuan, mimpi, dan janji yang telah disepakati dulu*kembali ke jalan yang benar. hehe^^

    [Reply]

Leave a Reply