Lebaran saya habiskan di rumah dan tiba-tiba saya menyandang status baru sebagai jobless. Energi terkumpul banyak tapi tak tahu harus disalurkan kemana. Silaturrahim sudah, ngaji sudah, jalan-jalan sudah, ngedit naskah…entar dulu ah. Jadilah setelah itu saya mulai “kebingungan” mengisi berlalunya waktu dengan hobi baru. Baca buku biokimia Harper, inilah buku yang pernah saya beli semester awal kuliah dulu dan sengaja saya pulangkan ke rak buku di rumah. Disampul rapi tapi masih mikir-mikir untuk baca.
Membaca bukan sesuatu yang baru buat saya karena baik di rumah atau di kosan saya punya perpustakaan pribadi dan betah berlama-lama duduk hanya untuk membaca. Tapi apa yang saya pilih untuk dibaca membuat saya bergidik sendiri. Uh…mengkhatamkan buku yang tebalnya 2 kali gedhe dan tebelnya Al Quran dengan font tak lebih dari 10 TNR. Nggak ada bacaan lain? Ada tapi saya bosan. Dan ternyata setelah saya telusuri isinya lebih dalam, banyak hal tentang BIOKIMIA yang membuat saya betah melahap setiap lembarnya dan akhirnya bisa saya korelasikan dengan beberapa peristiwa.
Kalian pernah dengar gaya Van der Waals? Ikatan ini memang lebih lemah dari ikatan hidrogen. Gaya Van der Waals timbul dari tarikan antar molekul atau atom bipolar, yang bersifat sementara. Tarikan yang bersifat sementara ini dihasilkan dari perubahan cepat pada distribusi muatan yang mencirikan semua atom netral. Interaksi Van der Waals, yang lemah jika berdiri sendiri tetapi terdapat dalam jumlah yang sangat banyak, turut memberikan kontribusi bermakna bagi struktur tiga dimensi dan kestabilan makromolekul.
Mungkin sama halnya dengan apa yang dialami oleh orang, bebek, monyet, ayam, bahkan para dedemit yang sedang jatuh cinta kali ya, hehe. Hanya saja rasa ini biasanya bersifat sementara karena perubahan cepat yang terjadi pada distribusi muatan atau keinginan seseorang untuk mengejawantahkannya dalam sebuah tindakan. Ayam jantan jatuh cinta sama ayam betina kalo lagi musim kawin. Hewan yang lain juga begitu. Selebihnya mereka hanya peduli pada diri sendiri. Dan begitu juga manusia. Perasaan ini begitu cepat muncul begitu keduanya memiliki distribusi muatan yang memiliki karakterisitik spesifik. Cinta monyet, cinta ababil, nggak pandang bulu, mau orang biasa atau mereka yang bertitel pengemban dakwah. Jumlahnya banyak karena mudahnya manusia mengobral cinta. Gampang sih ngomongnya karena sebagian besar tak memahami kesucian maknanya. Tapi sekali lagi saya katakan bahwa ikatan ini lemah. Mengapa?
Ada dua faktor yang menentukan mengapa ikatan cinta manusia dengan gaya Van der Waals ini hanya bekerja dalam jarak kisaran antar-atom atau skala yang sempit, yaitu
Pertama, karena tidak ada komitmen di dalamnya. Gaya tarik menariknya akan berkurang ketika satu sama lain saling mengetahui kekurangan dan terjadi intoleransi dalam menyikapi suatu keadaan yang tak sesuai harapan. Sehingga ketika keduanya saling mendekat, gaya tolak antar individunya akan semakin cepat melebihi gaya tariknya. Sekali lagi saya katakan, karena tidak ada komitmen menuju ikatan mulia (pernikahan) di dalamnya.
Kedua, Interaksi kedua pihak yang saling jatuh cinta dengan gaya Van der Waals maksimal hanya terjadi di antara atom-atom yang dipisahkan oleh jarak yang besarnya sama dengan penjumlahan radius gayanya. Mungkin sama ketika hanya terjadi komitmen untuk melakukan long distance relationship, hubungan tanpa status (dibilang kawan enggak dibilang pacaran juga enggak) atau saling menunggu hingga siap sampai akhirnya Allah benar-benar membuatnya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ikatan cinta sejatinya.
Yakin Allah meridhai segala momen yang terjadi di dalamnya? Tumbukan-tumbukan perasaan berkelebat dan berakibat lemahnya ikatan terhadap-Nya menunjukkan semakin rendahnya aktivitas kita untuk berubah lebih baik dari hari ke hari. Dan saking banyaknya orang yang mereplikasi ikatan ini dalam interaksinya dengan orang lain, suka tidak suka telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam tatanan hidup bermasyarakat. Tergerusnya norma, kebiasaan, dan akhlak. Timbul pertentangan dalam kebiasaan. Perilaku sehari-harinya tak lagi sesuai dengan norma padahal mereka sadar bahwa itu salah. Jadilah muncul manusia-manusia permisif yang memiliki tingkat fleksibilitas tinggi yang tidak sesuai dengan tatanan norma dan hukum-Nya yang mengatur akhlak kita. Naudzubillah
Ramadhan berlalu dan syawal sudah berulang. Saya menyambutnya dengan sedikit keprihatinan mendalam. Meski, harapan tetap menyala di hati. Saya yakin, pastilah ada calon generasi pengganti yang lebih baik untuk mengubah wajah negeri ini, menjadi lebih baik lagi. Amin.
thanks to :
Robert K Murray dkk - Biokimia Harper
Inspiring Motivator : serial motivasi Dadang Kadarusman
Agustus 23rd, 2012 at 08:25
tulisannya menarik sekaligus menggelitik…
Agustus 23rd, 2012 at 09:26
pernah kena efek gaya van der waals juga rupanya